Refleksi Akhir Sya’ban 1442 H

Silaturrahim selalu menyisakan percak percik penilaian yang beragam, ada yang menilai sebagai sesuatu yang positif untuk merekatkan ikatan yang sudah mulai berjarak, baik karena tempat atau status sosial yang berbeda. Tak sedikit pula yang menganggap bahwa upaya yang mulai langka ini merupakan bagian dari menaikkan status, bahkan sering terjadi ketika bersilaturrahim “dicurigai” untuk meminta sumbangan atau menanyakan dan menuntut bagian waritsan. Penilaian tersebut tidak sepenuhnya salah dan juga tidak seluruhnya benar tergantung sudut pandang dan pola pikir masing-masing.

Jika pikiran orang yang menilai berangkat dari persepektif yang sehat, tentu akan melahirkan hasil yang benar. Sebaliknya jika berpijak pada pijakan salah, sudah pasti akan salah. Bukankah ahli shufi pernah berkata : لون الماءلون اناء bahwa warna air tergantung warna bejananya. Hal ini berarti bahwa cara pandang seseorang sangat berpengaruh pada sikap, tutur kata dan tingkah lakunya, apakah itu positif maupun negatif.

Bagi saya yang lemah dalam segalanya; ilmu, harta, pangkat dan lain-lain tentu harus menerima dengan lapang dada apapun penilaian orang lain, toh kita tidak perlu sibuk menanggapi atau bahkan mengendorkan semangat yang telah terbangun. Lebih-lebih jika niat kita benar, urusan kita hanya dengan Allah SWT. Orang lain tak berhak memberi manfaat ataupun mudharat, demikian pula mereka juga bukan pemberi tiket pahala maupun dosa. Tak ada yang bisa menjamin, siapa ke surga, siapa pula ke neraka. Tugas kita hanya berusaha dengan kemampuan yang kita miliki sesuai kodrat dan fitrah yang Allah berikan.

Sejak dulu, saya dididik oleh orang tua untuk melakukan silaturrahim dengan famili tanpa pandang bulu, status, warna darah maupun merk. Seiring perkembangan waktu, sepertinya kurang afdhal dan sah apabila silaturrahim tidak disertai foto bersama untuk mengabadikan momen bersejarah. Sehingga dari sinilah timbul penilaian dan anggapan bahwa kekerabatan hanya “ngajum” (merangkai) dengan mereka yang secara status lebih “berkelas” atau mempunyai ciri khas “ter” (tercantik, terkaya, terpandang dll) seperti tampak dalam foto tanpa mengikuti rekam jejak sebelumnya.

Yang jelas bagi saya “ter” tidak terlalu penting, yang terpenting adalah “termoter” (berputar-putar, keliling) dengan semua level, lapisan dan tingkatan. Ada hal yang utama dari kegiatan silaturrahim yaitu belajar tentang cara bicaranya, sifatnya, meniru ketulusannya, mengambil hikmah dari latar kehidupannya. Jika kebetulan seorang guru atau orang yang dekat dengan Allah SWT kita “ngampong sinyal” kemulyaan mereka, barangkali kita dimasukkan dalam doa-doanya, diakui santrinya, diajak dan membimbing tangan kita kelak di akhirat. Bukan untuk sebuah kebanggaan yang sifatnya sementara dan penuh tipuan.

Alhasil kegiatan “nyambhung ateh” atau “moghel tresnah” sebagaimana perintah agama adalah sekedar melaksanakan atau merawat pesan dan amanah mulya dari leluhur, guru-guru (arabet sangkolan) yang dinukil dari nas-nas Al-Qur’an dan Al-Hadits. Jika ternyata tidak dianggap (eangghep) tentu hal tersebut adalah perkara lain.

Muhammad Sahli Hamid

Ahad, 11 April 2021

 

 

Share to

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.