Foto : Seminar

Kendari Sultra, LidiNews.id– Sebagai bentuk dukungan menolak hadirnya paham-paham radikal dan intoleran di bumi anoa, pengurus Perkumpulan Masyarakat Tolaki (PMT) Sulawesi Tenggara menggelar Seminar Kebangsaan bagi para kader-kadernya, Rabu (24/2) di Sekret PMT, Kecamatan Wua-wua.

Mengusung tema “Menolak Paham Radikalisme dan Intoleransi di Provinsi Sulawesi Tenggara”, PMT Sultra menghadirkan pemateri kompeten di bidangnya seperti Kabid Bina Ideologi dan Wawasan Kebangsaan Kesbangpol Sultra Muslihi, Ketua PW NU Sultra KH Muslim dan Kasubdit IV Dit Intelkam Polda Sultra, AKBP Selphanus Eko WN.

Kepada media, mewakili Pemda, Muslihi berterima kasih sekaligus mengaresiasi kegiatan yang diinisiasi pengurus PMT Sultra. Menurutnya, kegiatan seperti ini membantu pemerintah dalam mensosialisasikan wawasan kebangsaan kepada masyarakat.

“Kegiatan ini sangat membantu kami dalam menyosialisasikan pemantapan wawasan kebangsaan kepada masyarakat, utamanya masyarakat Sultra. Pemantapan wawasan kebangsaan itu adalah bagaimana kita memahami dan mengamalkan empat konsensus kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinekatunggal Ika,” ujarnya.

Pemantapannya pun, sambung Muslihi, harus dimulai dari diri sendiri, kemudian meluas ke lingkungan kekuarga, lingkungan masyarakat dan wilayah sekitar. Meskipun, ia mengakui bahwa kontribusi pemda menyosialisasikan pemantapan wawasan kebangsaan belum cukup optimal.

“Kami akui belum optimal, tetapi kami terus melakukan perjuangan menyosialisasikan, berkoordinasi dengan pihak terkait utamanya Polda Sultra, pemerintah kabupaten kota dalam hal pemantapan nilai-nilai konsensus kebangsaan. Apalagi bagi pemerintah pusat, kegiatan seperti ini sebagai bentuk penerapan aksi nyata revolusi mental,” tandasnya.

Ditempat sama, Kasubdit IV Dit Intelkam Polda Sultra, AKBP Selphanus Eko WN mengaku bahwa wilayah Sultra berpotensi sebagai wilayah rawan radikalisme. Pasalnya, lanjut dia, wilayah Sultra berbatasan langsung dengan dua provinsi dengan intensitas radikalisme yang sangat tinggi.

“Dari sisi geografis kita berbatasan dengan Sulsel dan Sulteng. Dimana tingkat radikalisme yany ada diwilayah itu intensitasnya sangat tinggi, sehingga ketika dilakukan presure terhadap paham radikal di Sulsel dan Sulteng secara naluri mereka akan bersembunyi di daerah perbatasan. Inilah salah satu potensi radikalisme di wilayah kita,” terang AKBP Selphanus.

Perwira menengah Polri ini mengakui, bibit-bibit radikalisme sudah ada wilayah Sultra sehingga untuk mencegahnya diperlukan kerjasama semua pihak, dalam hal ini stakeholder terkait.

“Di Sultra bibitnya sudah ada untuk itulah kami Polda Sultra berkolaborasi dengan stakeholder, bersama-sama ikut menyosisalisikan dan bagaimana mencegah paham radikal dan terorisme. Kami berharap kedepan kita lebih meningkatkan sinergitas dengan pemangku kepentingan untuk tetap bersama-sama berkomitmen menolak aksi terorisme, paham radikalis dan intoleransi di Sultra,” cetusnya.

Sementara itu, Ketua Umum PMT Sultra Supriyadi mengungkapkan bahwa PMT punya cara tersendiri mengedukasi generasi muda (kader PMT, red) agar terhindar dari paham-paham radikalis.

“Salah satunya dengan melakukan pengkaderan. Memberikan pemahaman terkait empat pilar kebangsaan, yakni Pancasilan, UUD 1945, Bhinekatunggal Ika dan NKRI,” beber Magister Hukum ini.

Disisi lain, lanjut dia, PMT melakukan pengoptimalan dari sisi pendidikan pemasyarakaan dan juga budaya agar tetap menjaga budaya saling menerima perbedaan dan menerima satu sama lain.

“Empat pilar kebangsaan wajib diketahui bagi kader. Untuk implementasinya sudah 99 persen. Bahkan kalau tidak ada yang sepaham, kami siap mengeluarkannya agar tidak ada bibit-bibit radikalisme di PMT,” tegas Supriyadi.

Penulis : SM

Share to

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *