Anggi Marlin Kader LMND Kendari

Lidinews.id – Setiap perempuan berhak untuk diperlakukan secara baik begitupun dengan laki-laki. Bukankah masing-masing dari kita lahir ke dunia ini dari rahim seorang perempuan ? Relakah jika orang yang sangat kita cintai, yaitu ibu kita, mendapat perlakuan yang tidak baik dari orang lain ? Dalam keseharian, apakah selama ini kita telah banyak berbuat baik terhadap perempuan? Dan apakah kita sudah menghargai perjuangan perempuan?

Saya ingin mengajak pembaca menilik kembali buku-buku R.A Kartini. Cobalah perhatikan dengan analisa yang jeli, begitu hebatnya R.A. Kartini. Di zamannya, R.A Kartini sudah berpikir jauh ke depan. Di saat kebanyakan perempuan dibesarkan dalam budaya Jawa yang lekat dengan budaya patriarkat, yang hanya mengenal bagaimana cara menjadi istri yang baik, perempuan yang baik, tugasnya begini dan begitu. Akan tetapi di masanya, R.A. Kartini sudah berpikir tentang kesetaraan gender.

Saat ini, membahas mengenai kesetaraan gender tampaknya sudah sangat membosankan. Beruntunglah bagi kita yang merasakan itu, karena alasan telah bosan akan asumsi-asumsi kesetaraan gender. Lalu bagaimana dengan mereka yang ikut-ikutan bosan, dan parahnya, ternyata sama sekali tidak tahu menahu apa itu kesetaraan gender, apa itu gender, dan seperti apa penerapan kesetaraan gender tersebut. Parah.

Penulis sendiri beruntung, _hehehe_. Karena belum juga banyak memahami, seperti apa kesetaraan gender itu, _hehehe (tertawa jahat)_. Walaupun pengetahuan akan gender beserta kesetaraan gender masih kurang, minimal tidak, penulis akan mencoba menguraikannya dengan sederhana, agar pembaca dapat dengan cepat mengerti.

Yang penulis tahu, gender dan seks adalah berbeda. Nah, inilah yang kadangkala banyak dari kita yang sering salah memahaminya. Kadangkala kita memahami gender dan seks itu sama saja. Makanya banyak yang masih tabu untuk membahas gender, apalagi mau membahas seperti apa kesetaraan gender itu.

Di rangkum dari alodokter.com, gender dan seks memang sama-sama memiliki hubungan dengan jenis kelamin. Akan tetapi, seks bersifat mutlak, sementara gender cenderung tidak.

Berdasarkan rangkuman tersebut, seks adalah pembagian 2 jenis kelamin, yakni laki-laki dan perempuan, yang ditentukan secara biologis. Seks juga berkaitan dengan karakter dasar fisik dan fungsi manusia, mulai dari kromosom, kadar hormon, dan bentuk organ reproduksi.

Sedangkan gender, adalah persepsi masyarakat atau yang mengacu pada peran, perilaku, ekspresi, dan identitas seseorang, baik laki-laki maupun perempuan. Istilah ini juga erat hubungannya dengan orientasi seksual, misalnya homoseksual, heteroseksual, dan biseksual.

Gender biasanya diasosiasikan dengan istilah maskulin dan feminin. Maskulin dihubungkan dengan sifat kelaki-lakian, seperti gagah, kuat, dan memimpin. Sementara feminin dihubungkan dengan sifat perempuan, seperti mengayomi, lemah lembut, dan perasa.

Hubungannya dengan judul tulisan apa…?

Nah, yang ingin penulis coba simpulkan adalah, bagaimana caranya untuk kita _(laki-laki)_ menghargai perempuan. Bagaimana caranya menghargai perjuangannya, serta bagaimana sesama perempuan saling menghargai satu sama lain, dan sebagainya.

Terutama sekali kepada kaum adam _(laki-laki),_ untuk menghargai perempuan beserta perjuangannya, langkah pertama yang harus di ambil adalah menerapkan dengan sungguh-sungguh kesetaran gender dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu, apa itu kesetaran gender. Di rangkum dari kumparan.com, kesetaraan gender adalah suatu kondisi kesepadanan yang terjadi dalam masyarakat ketika perempuan maupun laki-laki memiliki kesamaan akses dalam urusan sosial, ekonomi, pendidikan, ataupun persoalan lainnya.

Selanjutnya adalah menghargai perjuangan perempuan. Untuk menghargai perjuangan kaum perempuan, kita tidak hanya sebatas mendukung, akan tetapi harus terlibat penuh. Sumbangsih fikiran dan tenaga adalah yang paling utama. Masih bingung dengan apa yang di perjuangkan perempuan ?, di atas telah di sebutkan tadi. Perjuangan perempuan adalah memiliki kesamaan akses dalam urusan sosial, ekonomi, pendidikan, ataupun persoalan lainnya.

Namun, perjuangan tersebut di atas hanya akan sia-sia apabila kaum perempuan itu sendiri masih apatis atau tidak mendukung, dan bahkan tidak turut serta terlibat memperjuangkan kesetaraan gender. Yang paling mirisnya lagi, apabila perjuangan kaum perempuan saling terpecah belah satu sama lain.

Banyak peristiwa ataupun contoh yang dapat kita saksikan langsung dalam kehidupan sehari-hari kita, yang dimana kaum perempuan itu sendiri masih tidak simpati terhadap perjuangan kaumnya. Misalnya, dalam suatu negara tertentu, ada seorang perempuan yang menjadi pemimpin di negara tersubut. Akan tetapi, program-program maupun kebijakan politik sama sekali tidak ada yang bersinggungan mengenai perjuangan hak-hak kaum perempuan ataupun kesetaraan gender.

Oke, untuk menghargai perempuan, terapkanlah kesetaraan gender dalam kehidupan sehari-hari._

Oleh : Anggi Marlin (Kader LMND Kendari, Kawan Juang Perempuan)

 

Share to

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *