Kerlinger Lallo

Lidinews.id – Pendidikan di Indonesia siapapun sulit untuk menjelaskannya, jikapun ada yang mampu menjelaskan dengan baik sistem pendidikan maka sebenarnya yang dijelaskan sekedar peraturan-peraturan pemerintah. Dampak dari polarisasi orangtua yang hidup di orde baru menjerumuskan generasinya buta pada ranah kemanusiaan.

Pembebasan yang dibentuk oleh mereka hanyalah nihilisme semata. Propaganda isu-isu korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) digunakan hanya untuk menciptakan birokrasi-birokrasi yang semakin kotor demi tercapainya pendidikan sebagai wadah memperkaya diri, inilah salah satu penyebab penyakit terbesar pendidikan kita.

Tujuan otonomi daerah yang baik tetapi mendapatkan pengawasan kurang berhati-hati dapat menciptakan peraturan pemerintah pusat terabaikan maupun penyelewengan pasal dalam peraturan daerah. Faktanya kasus intoleransi yang terjadi di SMKN 2 Padang, tetapi kasus seperti ini tidak hanya terjadi di satu lokasi saja. Aspirasi siswa-siswi sulit tersalurkan karena pandangan sekolah selalu berbedah dengan mereka bahkan tidak ada tempat untuk itu.

Berdasarkan pengalaman siswa di sekolah negeri, mereka telah melihat guru-guru yang mempermasalahkan latar belakang siswa. Terkadang guru tidak lagi fokus pada bidangnya dan proses pembelajaran, inilah bahaya pendidikan bangsa ini dan menjadi tantangan tersendiri zaman ini maupun akan datang.

Dimana sekolah yang seharusnya mengajarkan keberagaman suku, agama, ras, dan antargolongan tidak boleh dicedarai dengan peraturan-peraturan kotor, radikalisme, kehendak kekuasaan, dan golongan tertentu.

Oleh: Kerlinger Lallo

Share to