Gambar Ilustrasi

Lidinews.id – Tidak sedikit yang beranggap bahwa Colol desa yang memiliki segalanya sehingga kebutuhan hidup terpenuhi. Gambar-gambar lembah, sungai yang mengalir, pohon-pohon yang hijau, sawah-sawah yang membentang dengan padi, ladang kopi membentang menjadi identitas Colol, pergaulan masyarakat yang terkesan ramah sering menghiasi media sosial. Pertanyaan kemudian adalah benarkah di desa Colol seindah itu? Tentu tidak.

Apakah kita sering melihat di media social tidak dapat merepresentasikan sebagaimana sesunggunnya sesunggunya di desa Colololol. Adakalanya, atau sering kali, gambaran desa coylol sengaja dibuat seindah mungkin sebagai upaya untuk menujukan bahwa kehidupan di desa Colol merupakan kehidupan yang bahagia. Ini adalah naluri wajar dalam interaksi social. Setiap orang tidak ingin kelihatan susah didepan orang lain. Setiap orang juga harus tampil apa yang dimiliki.

Di desa Colol, tekanan karena kondisi alam masih jelas terasa seperti kerisis air di saat musim kemarau dan tekanan kondisi alam lainya. Tidak jarang disaat musim kemarau juga masyarakat Colol kesusahan mendapatkan air bersih, musim hujan pun sebagaian masyakarat di desa Colol ada juga yang tidak menikmati air bersih. Bukan hanya itu, keindahan-keindahan lainya seperti air terjun (cuncang Wek dan cuncang Ango) pohon-pohon yang rindang yang gambarnya seringkali di jadikan sarana untuk mereperesentasikan keindahan desa Colol, pada hari ini mulai hilang karena penebangan pohon secara liar sehingga gambar seperti air terjun (cuncang Wek dan cuncang Ango) dibalik keindahanya dalam gambar nyatanya disaat musim kemarau airnya tidak lagi mengalir seperti dalam gambar yang di buat media.

Sejauh ini kita bicara tentang lingkungan hidup di desa Colol. Selanjunya, bagaimana kehidupan masyarakat adat Colol itu sendiri? Apakah masyakarat desa Colol juga merasa hidup damai sebagaimana yang sering di tampilkan di media? jangan salah, tidak semua masyarakat desa memiliki tanah, kebun kopi, ataupun sawah. Tanah juga sebagian masyakarat Colol kian meyempit orang yang dulunya punya tanah Kopi yang hasil kopinya luar biasa sekarang menurun. Ada juga sebagain masyarakat Colol yang sekarang merubah hutan menjadi lahan Kopi hasil kopinya semakin besar. Tidak sedikit masyarakat desa Colol yang rela menjual tanahnya demi mengejar profesi sang anak. Ia lebih ingin anaknya memiliki seragam dengan gaji bulanan dari Negara ketimbang mewarisi pekerjaan orang tuanya sebagai petani. Mengapa demikian?.

Pada akhirnya yang perlu di ketahui adalah bahwa menjadi seorang petani Kopi tidaklah mudah, tidak terlalu menghasilkan, dan juga tidak bergensi. Itulah yang membuat pertanian orang Colol bobrok dari segala lini. Lalu, bagaimana bisa desa Colol dianggap sebagai tempat tinggal yang nyaman, berkecukupan dan indah seperti yang ada dalam gambar di media hanya karna desa masih berbasis pada ekonomi pertanian Kopi? Hal yang jarang di ketahui adalah bahwa para petani hanya mengeluarkan tenaga dengan hasil yang tidak sebarapa. Faktanya, biaya produksi untuk menanam Kopi cukup mahal dan sering kali tidak seimbang dengan hasil panen yang di terima. Tidak berhenti sampe disitu, para Petani Kopi Colol sering kali harus berhadapan dengan makelar, kapitalis (pemodal atau ijon) sarana pertanian, dan tengkulak hasil pertanian. Sejauh ini, problem-problem tersebut tidak mampu di pecahkan oleh masyakarat petani Kopi Colol. Sekali lagi, bagaimana mungkin kehidupan desa Colol seindah seperti yang sering di tayangkan dalam media-media?.

Coba tanya kepada pemuka-pemuka desa, selalu saja ada sepasang suami istri yang minta di mediasi akibat pertengkaran dalam rumah tangga. Apakah selama ini kita mengira bahwa di desa Colol tidak ada pertengakaran rumah tangga seperti yang di alami oleh para Artis seleberitis ibu kota? sama saja. Di desa Colol, rumah tangga gampang retak terlebih-lebih karna banyaknya kasus pernikahan usia dini dan perselingkuan. Akibat buruk dari semua itu ialah banyaknya anak-anak dengan masa depan yang berantakan. Kalaupun ada anak yang lahir dari keluarga baik-baik, biasanya mereka tidak betah di rumah inilah salah satu alasan yang mendorong mereka untuk meninggalkan desa dan merantau ke kota.

Jika tidak demikian, biasanya anak-anak muda akan mencari kesibukan di luar rumah dengan mengikuti kegiatan-kegiatan lebih banyak mengelolah otot, seperti bela diri. Mereka tidak menganggap bahwa kegiatan belajar dan sekolah sebagai hal yang menarik untuk di ikuti. Kegiatan yang berbau fisik, hedonisme dan kekerasanlah yang pada akirnya membuat mereka nyaman. Hal yang perlu di pahami adalah bahwa hostile situation yang terbagun di lingkungan desa itu benar-benar nyata. Itulah mengapa melatih diri untuk bisa berkelahi menjadi sangat menarik untuk di ikuti. Dengan kata lain, perasaan akan suasana tidak aman dan penuh permusuhan dalam alam bahwa sadar orang-orang desa inilah yang meyebabkan mereka begitu tertarik dengan bela diri.

Tidak jarang kita dengar bagaimana perkelahian antara anak muda yang berbasis sentimen sering terjadi di desa perkelahian yang berujung pada konflik panjang bernuansa dendam yang juga tidak jarang berujung kematian. Kisah-kisah konyol ini semakin mempertegas bahwa kehidupan di desa Colol tidaklah baik-baik saja. kisah-kisah konyol tentang perkelahian antara anak desa adalah hal yang sering terjadi di desa bukan saja tentang kisah masyarakat Colol yang mati akibat mempertahankan tanahnya dari perampasan dan penebangan Kopi atau sering kita kenal dengan kejadian 10 maret (Rabu berdarah). Melainkan lebih dari itu semua, kematian akibat kurangnya vasilitas kesehatan.

Mengapa masyarakat desa Colol terlebih khusus petani Kopi mengalami ijon dan rantai kemiskinan semakin terus bertumbuh di kehidupan petani kopi Colol padahal desa Colol salah satu desa di NTT yang memiliki hasil kopi terbaik? pertanyaan ini selalu menghantui pikiran orang-orang Colol. Sekali lagi, bagaimana bisa kehidupan di desa Colol dianggap sebagai kehidupan sejahtera?.

Oleh: Ferdinando Seferi (Bung Akar)

Share to